Kita Optimis Lima Petarung Akan Menang Lawan Corona

  • Whatsapp

Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan,
Pengamat Intelijen

Beberapa waktu terakhir, kita melihat adanya rasa khawatir beberapa pihak karena melihat atau mendengar berita tentang kasus Covid-19 di Indonesia yang diimpikan turun tetapi mendadak ada kenaikan kasus yang positif dalam tiga hari terakhir.

Menurut Gugus Tugas Covid, menilai kasus pandemi tidak bisa diisimpulkan dalam hitungan hari, tetapi harus diukur dalam dua minggu sejak diterapkan kebijakan. Kini yang terjadi muncul rasa pesimisme masyarakat, bahwa dengan new normal yang disampaikan Presiden Jokowi, maka kasus akan meledak menjadi banyak. Mari kita bahas.

Antara Pesimis dengan Optimis

Saat ini kita sedang perang dengan corona virus, dimana menurut teori perang, jangan sekali-sekali kita pesimis, moril rakyat akan jatuh, kepercayaan kepada pemerintah bisa turun.

Makna pesimis menurut KBBI adalah: orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dsb). Mengapa orang pesimis, karena tidak jelas dan yakin dengan yang dihadapi. Disinilah peran pemerintah dan tokoh2 informal memberikan informasi yang benar dan difahami khususnya kepada para grass root pada khususnya. Dari tiga kasus pemaksaan mengambil jenazah terindikasi Covid, para pelaku tdk faham bahaya tertular dan resiko hukum selama tujuh tahun penjara.

Nah, kini harus diciptakan kondisi optimis kepada publik, dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, kalau kita sayang kepada bangsa kita, semua harus berfikir positif dan optimis. Jangan berfikir sesaat dan hanya menyalahkan pemerintah.

Optimis disini merupakan bentuk sikap percaya diri, yakin, serta memiliki harapan positif terhadap suatu hal baik tujuan maupun ujian. Beberapa manfaat bersikap optimis, antara lain , Menjadikan kita senantiasa dapat berpikir positif dalam menyikapi segala perkara. Menjadikan diri tidak mudah menyerah dan putus asa. Kita harus banyak2 bersyukur kepada Allah, tidak diberi cobaan seperti beberapa negara maju, modern yg kini pusing.

Amerika Serikat misalnya masih belum berhasil mengendalikan penyebaran, terlebih kini ada demo2 masalah rasialis. Data worldometer pada tanggal 9 Juni 2020 menunjukkan total positif 2,066,401, kasus baru (24 jam) +20,852, total meninggal 115,130 jiwa, tambahan meninggal dlm 24 jam +982. Contoh kedua, Brazil total positif 775,184, kasus baru (24 jam) +33,100, total meninggal 39,797, tambahan meninggal dlm 24 jam +1,300 jiwa. Nah, kita lihat Indonesia, total positif 34.316, kasus baru (24 jam) +1.241, total meninggal 1.959 tambahan meninggal dlm 24 jam +36.

Dari perbandingan tiga kasus, sekali lagi mari kita bersyukur, pakai ukuran, yang terinfeksi di AS dua juta lebih, Brazil 775 ribu lebih, Indonesia 34 ribu lebih. Kalau lihat yg meninggal di AS total 125.130 jiwa, Brazil 39.797, Indonesia 1.959 jiwa. Walau korban di Indonesia hampir 2.000, tetapi dibandingkan kedua negara yang jumlah penduduknya juga banyak mestinya kita optimis, bersyukur dan yakin ada invisible hand yang melindungi kita.

Rasa syukur inilah yang kemudian akan memberi kesempatan lebih banyak bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih positif dalam mengatasi ujian dan cobaan berat ini. Kita juga harus tetap berpijak pada realita yang ada, tetap perlu mengenali karakter virus serta titik rawan kita. AS dan Brazil titik rawannya adalah soal perilaku, menyangkut kebebasan penduduk. Kita sebetulnya 11-12 dengan keduanya, tapi ada misteri yg kita belum ketahui dari virus Covid-19 ini yang menolong kita.

Lima Petarung Kunci Indonesia

Seperti pernah penulis sampaikan pada artikel sebelumnya, dalam berperang melawan Corona, Presiden Jokowi adalah Panglima Perang. Sementara ada empat Komandan Perang yaitu Gubernur, DKI, Jabar, Jateng dan Jatim. Mengapa? Karena mayoritas penduduk terkonsentrasi di pulau Jawa. Pergerakan penduduk di empat provinsi sangat menentukan pesebaran covid. Ritme, pola pikir dan kepiawaian lima petarung ini sangat menentukan ‘menggebah’ Covid-19.

Siapa mereka? Dalam perang, intelijen kita harus mengetahui siapa si pemimpin, biografi, pola pikir hingga karakternya. Penulis melihat ada kesamaan karakter dan pola pikir mereka. Kelima petarung itu lahir pada generasi yang sama, “X” (antara1961-1980)

Presiden Jokowi lahir 21 Juni 1961 (59 th) Gubernur DKI, Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969 (51 th), Gubernur Jabar Ridwan Kamil lahir 4 oktober 71(49 th), Gubernur Jateng Ganjar Pranowo lahir 28 OKtober 1968 (52 th), Gubernur Jatim Khofifah lahir pada 19 Mei 1965 (55 th). Kelima petarung tersebut kini dikawal dan didukung oleh Panglima TNI Hadi Tjahjanto
juga Generasi X, lahir 8 November 1963 (56 tahun) dan Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz, lahir 30 Januari 1963 (57 th).

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir setidaknya ada 5 generasi yang ada di dunia saat ini. Setiap generasi ini memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing dengan karakter serta pola pikir yang sesuai dgn perkembangan jaman. Nah, menurut penulis dalam menghadapi corona virus, yang banyak terlibat serta berpengaruh menghadapi kasus corona adalah generasi X serta generasi Y (1981-1994), dikenal sebagai generasi milenial.

Kelima petarung yang sama-sama lahir pada generasi X, mendapat pendidikan yang lebih baik, oleh sebab itu, pemikiran mereka sedikit lebih maju. Mereka cenderung suka akan risiko dengan pengambilan keputusan yang matang.

Dibanding Generasi sebelumnya, Generasi X sangat terbuka dengan kritik dan saran demi terwujudnya efisiensi dalam bekerja. Kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga cenderung seimbang karena pemikiran bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja. Selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya.

Persoalan yang dihadapi ke limanya terutama harus mampu menata dan mengarahkan generasi milenial yg kini jumlahnya mendekati mayoritas penduduk. Generasi milenial kini dianggap generasi paling produktif saat ini dan memegang peranan penting bagi kemajuan teknologi dan kehidupan, serta membawa masa depan Indonesia untuk beberapa tahun ke depan.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu generasi milenial sering dipandang narsis, semaunya, dan tidak sabaran. Padahal, generasi- generasi sebelumnya tidak berbeda jauh dari mereka. Terkait ladus Corons, mereka dinilai memiliki imunitas yg baik, tetapi sulit dikunci di rumah (stay at home)

Kita Optimis Dengan Kepemimpinan Lima Petarung

Dari uraian diatas, bangsa Indonesia kembali harus bersyukur karena diberi pemimpin dari Generasi X yang memiliki karakter mirip. Karakter kuatlah yang akan mampu mengatasi kasus covid.

Jenderal Norman Swartzkopt (AS) saat menimpin pasukan tempur di Timur Tengah mengatakan, saat itu kalau harus memilih antara strategi dengan karakter, yg dipilihnya karakter, ini karena misteri lawannya sulit dibaca oleh strategi. Nah, covid-19 hingga kini masih merupakan misteri, kita lihat AS, Brazil, juga negara2 Barat lainnya, mereka masih belum berhasil mengatasinya dan korban tetap banyak berjatuhan, kalau dipikir kurang apa hebatnya?

Kesimpulan

Perang dengan Covid ibaratnya melawan terorisme, pasukan kawan diinfiltrasi dan perilaku mereka yang menyebarkan dan membunuhi teman, saudara dan bahkan orang tua sendiri. Kita jangan pesimis, percayakan kepada lima petarung serta petarung2 lain yg (maaf) penulis tidak sebutkan satu persatu.

Pesimisme jelas merugikan leadership dan persatuan. Mari kita dukung para pemegang amanah, jangan justru direcoki, mereka faham dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Sebagai penutup, ini statement salah satu petarung yang membuktikan dia mahami medan tempurnya, “Kalau saya yakin secara keilmuan second and third wave itu pasti datang tapi puncak kurvanya tidak sama dengan yang pertama,” kata Ridwan Kamil.Semoga bermanfaat, Pray Old Soldier.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *