Nicholas Saputra, Antara Travelling dan Pantai

  • Whatsapp
Nicholas Saputra, Antara Travelling dan Pantai
Nicholas Saputra

Jakarta, beritayudha.com  Diluar kebintangannnya, Nicholas Saputra adalah traveller yang punya kecintaan lebih pada Indonesia. Bagi Nico, panggilan akrabnya, travelling sudah menjadi kebutuhan. Ia sudah memulainya sejak lulus SMA dan lebih intensif lagi lepas kuliah. Uniknya, pengalaman masa kecil memberi pengaruh pada minat travelnya kini.

“Waktu kecil, kakek mencecoki saya dengan tontonan dokumenter, cerita sejarah, juga flora dan fauna. Waktu itu saya tidak mengerti, tapi tontonan itu sangat visual, dan membuat saya membayangkan senangnya berkunjung ke tempat-tempat itu. Orang tua saya juga dulu sering membawa saya liburan ke daerah-daerah wisata,” kata Nico seperti dikutip dari laman Moments.

Ditambah karakter Nico yang penuh penasaran dan eksplosif, menjadi latar belakang suburnya minat ini. “Saya selalu ingin tahu rasanya kehidupan orang lain, di tempat lain, negara lain, pulau lain, dengan kulutur yang berbeda-beda,” ungkap Nico.

Hingga kini, Nico masih penasaran yang besar bertualang ke pelosok Nusantara. Baginya, Indonesia menyimpan banyak cerita dan petualangan, juga sesuatu yang unik ditemui di setiap wilayahnya.

“Selalu ada cerita, selalu ada interest yang berbeda di setiap daerah. Saya menikmatinya semua tantangan di setiap perjalanan itu,” ujarnya. Uniknya, Nicolas Saputra lebih suka backpacker traveling sendirian.

Nico memang menyukai pantai dan laut. Ia merasa tenang dan re-fresh berada di dekat laut. Ia merasa mendapat ‘suntikan’ energi yang bagus setiap pulang dari laut. Menurutnya, Indonesia menyimpan banyak pantai yang belum banyak didatangi orang. Baginya, pantai memiliki keheningan, pemandangan, dan ombaknya.

“Saya sangat mengapresiasi kesunyian. Sebagus apapun pantainya kalau dieksploisasi berlebihan jadi tidak menarik. Kadang pantai kecil, pantai biasa, tapi bisa nongkrong, lihat orang memandikan kuda atau memancing, jauh lebih bagus,” papar Nicholas Saputra yang nyaman dengan penginapan apapun, termasuk lodging dan rumah penduduk.

Tak semata-mata tempat-tempat barum ada kalanya Nicholas Saputra menggulangi kunjungannya ke tempat yang sama. “Ada beberapa tempat yang saya suka dan kunjungi berkali-kali. Sensasinya selalu berbeda, pertama kali ekslorasi, kedua kalinya menikmati yang lain, ketiga kalinya ingin lebih dekat,” kenang Nico.

Mengenai destinasi kunjungan petualangannya di Nusantara, kebanyakan adalah eksplorasinya sendiri, selain info dari teman dan bacaanya. Pada 2007 -2008 lalu, Nicholas Saputra berkomitmen untuk keliling Indonesia selama kurun dua tahun.

“Saya tidak ke luar negeri sama sekali. Semua budget, waktu dan kesempatan ke luar negeri, saya alihkan untuk hanya keliling Indonesia. Akhirnya saya keliling Indonesia, dari ujung ke ujung, dan sudah dapat petanya,” ungkapnya.

Dalam setiap perjalannya, Nico menghindari privilage atas keartisannya. Meski diakuinya ada attention lebih dari orang-orang didaerah yang ia datangi. “Tapi interaksinya lebih menarik. Nggak sedikit-sedikit minta foto. Lebih ke interaksi yang humanis.”

“Mereka menyapa, ngajak ngopi, ngobrol dengan duduk tenang, ini menyenangkan. Ketimbang ke kota orang cuma minta foto dan selesai. Di pelosok, saya merasa lebih dimanusiakan,” ujarnya jujur.


Nicholas Saputra dan Cinta Indonesia


Kebanyakan kita mungkin traveling untuk mencari alasan mencintai Indonesia. Tapi, bagi Nico justru karena ia sudah jatuh cinta. “Bukan cara saya, tapi sudah mencintai Indonesia,” singkatnya.

Bagi Nico, tempat terbaik buat diving adalah daerah kepulauan Komodo dan Raja Ampat. “Pertama kali saya ke Pulau Komodo itu 2006. Belum ada apa-apa, penginapan atau restoran. Cuma kampung nelayan. Saat itu, saya bolak-balik ke sana setahun lima kali,” tuturnya.

Nico percaya negeri ini punya banyak potensi pariwisata. Tapi, ia prihatin dengan pengelolaan potensi tersebut. “Harusnya dilakukan hati-hati.”

“Tourism itu sifatnya eksploitatif, maka konservasinya harus baik. Tapi, kadang konservasinya tidak secepat dan sekuat eksploitatifnya. Jadi perlu keseimbangan eksloitasi dan konservasi tadi,” kata Nicholas Saputra.

Bagi Nico, traveling adalah sesuatu yang personal. To be there, enjoy the moment, talk with local people adalah kepuasan yang luar biasa baginya.

“Saya lahir dan besar di kota besar. Banyak missing moments di kota dan justru saya dapatkan di pelosok Indonesia. Soal respect, memanusiakan manusia, atau dimanusiakan manusia. Saya bermain film sejak usia 17 tahun. Orang men-threat saya macam-macam. Saya kehilangan kejujuran orang lain. Tapi ketika masuk ke pelosok, mungkin mereka tidak tahu siapa kita, semuanya menjadi tulus,” kata Nicholas Saputra.


Karenanya, Nico tidak pernah berpikir untuk berhenti melakoni kegemarannya ini. Ia menyempurnakan aktivitas travellingya dengan berbagai inisiatif positif. Misalnya, project kolaborasi dengan seniman di ArtJog 2017 lalu.


Nico juga turut mempromosikan potensi wisata di berbagai pelosok Indonesia. “Saya bantu yang saya bisa, mengkoneksikan mereka dengan individu dan organisasi yang berkompeten,” jelasnya.


“We’ll keep on going, keep on travelling. Saya ingin terus bisa memberikan dan melakukan yang saya mampu. Saya mengenal Indonesia dengan lebih baik justru melalui travelling,” pungkas Nicholas Saputra.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *