Sebelum Terlambat, Kenali 3 Tipe Diabetes

  • Whatsapp
Sebelum Terlambat, Kenali 3 Tipe Diabetes
Sebelum Terlambat, Kenali 3 Tipe Diabetes

Jakarta, beritayudha.com   Tipe diabetes berbeda-beda setiap orang, dengan penganganan medis yang berbeda-beda pula. Hampir semua orang pernah mendengar tentang diabetes mellitus.Namun tidak semua yang memahami dengan benar penyakit tersebut, apalagi tipe diabetesnya.

Menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam (Endokrinologi), Prof. Dr. dr. Pradana Soewondono. Sp.PD-KEMD, diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau berkurangnya efektivitas insulin. Hal ini ditandai dengan hiperglikemia atau peningkatan kadar glukosa melebihi normal yang berlangsung terus menerus.

Prof. Dr. dr. Pradana Soewondono. Sp.PD-KEMD menegaskan, penyakit diabetes dapat ditangani dengan baik apabila edukasi yang diberikan dokter dapat dipahami dengan baik oleh pasien, mengingat banyaknya bermacam-macam kasus yang berkaitan dengan diabetes.

“Intinya adalah edukasi secara menyeluruh. Dokter harus terus meng-upgrade pengetahuannya, pasien juga harus mendapatkan penjelasan dari dokter. Semua ini perlu dilakukan karena saat ini ilmu kedokteran terus berkembang dan sudah banyak bermacam-macam kasus yang berkaitan dengan diabetes,” jelasnya.

Penyakit ini ternyata memiliki beberapa tipe berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Berikut tipe diabetes :

Diabetes mellitus tipe 1

Pertama, Diabetes mellitus tipe 1 yang disebabkan oleh kegagalan tubuh untuk memproduksi insulin.

Diabetes tipe ini dapat terdeteksi ketika seseorang berusia muda, bahkan anak-anak dan sebagian besar penderitanya kurus. Penderita akan membutuhkan insulin dari luar tubuh secara rutin terus-menerus sepanjang hidupnya.

Diabetes mellitus tipe 2

Kedua, Diabetes mellitus tipe 2 yang disebabkan karena kekurangan insulin, dimana tubuh tidak menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup atau insulin yang dihasilkan tidak dapat bekerja secara memadai.

Hal ini menyebabkan tubuh memiliki masalah dalam mengubah karbohidrat menjadi energi sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah.

Diabetes tipe 2 dapat menyerang segala usia, namun mayoritas terjadi pada orang berusia di atas 30 tahun.

Penderita diabetes tipe 2 dapat mengontrol kadar gula darahnya dengan diet, olahraga, antibdiabetik oral atau kadang-kadang memerlukan suntikan insulin.

Apabila tidak melakukan terapi pengobatan dan perubahan gaya hidup yang tepat, penyakit ini dapat menimbulkan risiko penyakit jantung, kebutaan, kerusakan saraf dan organ, dan kondisi serius lainnya.

Diabetes mellitus gestasional

Ketiga, diabetes mellitus gestasional yang diderita wanita hamil yang tidak pernah menderita diabetes melitus sebelumnya tetapi ketika hamil memiliki kadar glukosa yang tinggi.

Diabetes melitus gestasional terjadi karena adanya hormon kehamilan yang bekerja berlawanan dengan insulin. Diabetes melitus gestasional biasanya terjadi pada kehamilan trimester ke-2 atau ke-3 (setelah usia kehamilan 3 atau 6 bulan), dan umumnya menghilang sengan sendirinya setelah proses melahirkan.

Perbedaan Tipe Diabetes 1 dan 2

Kenali 3 Tipe Diabetes

Diabetes terjadi ketika tubuh mempunyai masalah dengan insulin, yaitu hormon yang membantu mengubah gula dari makanan menjadi energi. Ketika insulin dalam tubuh tidak terlalu cukup, gula menumpuk dalam darah dan dapat membuat sakit.

Orang-orang dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 keduanya menghadapi masalah ini, tetapi bagaimana penyakit ini muncul adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Umumnya, Ada lima perbedaan tipe diabetesyang paling utama dalam diabetes tipe 1 dan 2:

Pertama, penderita diabetes tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin sama sekali. Itu karena tipe 1 merupakan penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh diserang dan menghancurkan sel-sel pembuat insulin di pankreas.

Namun tak seorang pun tahu secara pasti apa yang menyebabkan itu, tetapi faktor genetik bisa jadi berperan dalam hal ini.

Sedangkan, pada diabetes tipe 2, tubuh masih memproduksi insulin, namun tidak cukup atau tubuh mempunyai kesulitan menggunakan insulin secara efisien.

Faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas, terutama jika mempunyai berat badan lebih di sekitar perut dan tak banyak melakukan aktivitas fisik. Riwayat keluarga yang mempunyai penyakit ini juga dapat meningkatkan risiko.

Perbedaan kedua, penderita diabetes tipe 1 wajib mengonsumsi insulin, sedangkan pengobatan diabetes tipe 2 lebih bervariasi.

Karena orang dengan diabetes tipe 1 tidak dapat memproduksi insulin sendiri, mereka harus melakukan injeksi insulin rutin atau memakai pompa insulin yang melekat pada tubuh mereka. Tanpa insulin, hidup mereka akan berakhir.

Diabetes tipe 2, pilihan pengobatannya lebih banyak. Salah satunya dengan melakukan diet dan lebih banyak olah raga untuk menurunkan berat badan.

Tetapi kebanyakan orang dengan diabetes tipe 2 juga mengonsumsi pil yang mendorong tubuh agar dapat menghasilkan lebih banyak insulin dan atau menurunkan kadar gula darah.

Jika langkah-langkah ini tidak bekerja dan penyakit semakin memburuk, Anda mungkin harus beralih menggunakan suntikan insulin.

Ketiga, gula darah rendah lebih umum terjadi pada diabetes tipe 1, akan tapi hal tersebut juga tidak lebih baik pada diabetes tipe 2. Gula darah tinggi berbahaya, tetapi gula darah sangat rendah (hipoglikemia) dapat menyebabkan kelemahan, pusing, berkeringat dan gemetar. Dalam kasus yang parah, ini dapat membuat pingsan dan bahkan mengancam nyawa.

Ini lebih umum terjadi pada orang-orang dengan tipe diabetes 1. Karena itu, penderita diabetes tipe 1 perlu hati-hati dalam menghitung seberapa banyak insulin yang harus dikonsumsi (melalui suntikan atau pompa) berdasarkan asupan makanan dan tingkat aktivitas.

Hal ini memang tidak selalu mudah, mengonsumsi lebih banyak insulin dari yang diperlukan dapat membuat tingkat gula darah menurun. Begitupun halnya berolahraga, meskipun menyehatkan, juga dapat menyebabkan gula darah rendah.

Jika mengalami gejala hipoglikemia, perlu segera melakukan sesuatu untuk meningkatkan gula darah dengan cepat. Contohnya seperti meminum segelas jus, makan beberapa permen atau konsumsi tablet atau gel yang mengandung glukosa.

Keempat, makan makanan manis mungkin akan lebih berisiko pada diabetes tipe 2. Kebanyakan orang dengan tipe diabetes ini tidak mengonsumsi insulin, artinya tubuh tidak bisa mengatasi dengan mudah apa yang dimakan.

Diabetes tipe 2 juga berkaitan erat dengan obesitas dan konsumsi banyak makanan manis dapat dengan mudah menyebabkan kenaikan berat badan.

Terakhir, Tipe 1 biasanya terdiagnosis pada anak-anak, sedangkan tipe 2 cenderung menyerang usia dewasa.

Meskipun tipe 1 dapat berkembang pada orang dewasa, tetapi lebih umum ditemukan ketika masa kanak-kanak. Itu sebabnya, mengapa diabetes tipe 1 dulu disebut diabetes anak-anak (juvenile diabetes).

Diabetes tipe 2, di sisi lain, lebih mungkin terjadi saat usia bertambah: risiko meningkat setelah usia 45 tahun.

Menurut Prof. Dr. dr. Pradana Soewondono. Sp.PDKEMD, terlepas dari tipe diabetes manakah jika terdiagnosis yang diidap, penyakit ini harus segera ditanggapi dengan serius karena dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti kebutaan, amputasi dan gagal ginjal yang menyebabkan kematian.

“Yang terpenting adalah, penderita diabetes tetap dapat menjalani pola hidup sehat. Minum obat seperti yang diarahkan, sering memantau kadar gula darah, makan dengan baik, berolahraga dan tidak stress. Itu merupakan kunci hidup panjang penderita diabetes mellitus,” pungkasnya.

Dengan mengenali tipe diabetes sedari dini, maka penanganan medisnya menjadi lebih mudah. Jadi jangan acuh dengan kemungkinan tipe diabetes yang mungkin muncul ya.

Related posts